Haji Uma: Hakim Minta Saksi Kunci Kenali Suara Pelaku Pembunuhan Imam Masykur
JAKARTA — Anggota DPD RI asal Aceh H Sudirman alias Haji Uma kembali hadir dalam persidangan kasus pembunuhan Imam Masykur di Mahkamah Militer II-08 Cakung Jakarta Timur, Kamis (2/11).
Kehadiran Haji Uma dalam persidangan tersebut sebagai komitmennya mengawal proses hukum kasus pembunuhan Imam Masykur sampai tuntas.
Haji Uma menjelaskan persidangan dimulai pukul 10.00 WIB dengan menghadirkan 4 saksi korban termasuk salah satunya Khaidar yang merupakan saksi kunci kasus tersebut.
Khaidar dimintai keterangannya oleh Oditur Militer dan Majelis Hakim selama 3 jam, mulai pukul 10.00 hingga 13.00 Wib.
Pertanyaan pokok diajukan oleh Majelis Hakim yaitu kesaksian ibu Imam Masykur dalam Berita Acara Pemeriksaan sebelumnya terkait kalimat ancaman pelaku melalui telepon ibu Imam Masykur.
“Jika ibu tidak kirim uang Rp 50 juta anak ibu akan kami bunuh dan mayatnya kami buang ke sungai”.
Kalimat tersebut dibenarkan oleh Khaidar diucapkan oleh para terdakwa, namun Khaidar tidak mengenali siapa yang mengucapkan kalimat tersebut karena matanya ditutup saat itu.
Majelis Hakim dalam pembuktiannya meminta terdakwa satu persatu untuk mengucapkan kembali kalimat ancaman tersebut untuk dikenali oleh Khaidar
“Setelah terdakwa satu persatu mengulang kalimat ancaman tersebut, Khaidar menjawab bahwa suara tersebut adalah suara Riswandi Manik,” ungkap Haji Uma.
Haji Uma menambahkan di akhir Majelis Hakim memeriksa Khaidar ikut memberi kesempatan kepada terdakwa untuk membantah kesaksian Khaidar, namun untuk kalimat ancaman tersebut tidak dibantah oleh terdakwa Riswandi Manik.
“Kesaksian Khaidar cukup menentukan pembuktian penetapan Pasal 340 bagi terdakwa yaitu Pembunuhan Berencana yang dapat dijerat maksimal hukuman mati,” tutup Haji Uma.
Sebelumnya, Haji Uma anggota DPD RI asal Aceh menjemput para saksi kasus pembunuhan Imam Masykur di Bandara Soekarno Hatta Jakarta, Rabu (1/11/2023).
Para saksi tersebut berjumlah 4 orang, masing-masing ibu Fauziah (Ibunda Imam Masykur), Fakhrurrazi (Adik Imam Masykur) Yuni Maulida (Tunangan Imam Masykur) dan Khaidar (24) yang merupakan saksi mahkota kasus ini yang tidak pernah muncul ke publik.
Para saksi berangkat dari Bireuen dan Lhokseumawe sekita pukul 01.30 Wib menuju Bandara Kualanamu Sumatera Utara dengan perjalanan darat yang didampingi Muhammad Daud, staf ahli Haji Uma. Tiba di Kualanamu, para saksi diberangkatkan secara terpisah dengan pesawat berbeda.
Khusus Khaidar berangkat bersama Muhammad Daud satu jam lebih cepat dari keberangkatan 3 saksi lainnya. Sesampai di Jakarta tepatnya Pukul 14.00 Wib melalui Bandara Soekarno Hatta, para saksi langsung disambut Haji Uma bersama Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK).
Haji Uma mengatakan kedatangan para saksi dari Aceh untuk memenuhi panggilan Mahkamah Militer II-08 Cakung, Jakarta Timur. “Para saksi ini akan memberi kesaksiannya di hadapan Hakim atas kasus pembunuhan Imam Masykur oleh 3 oknum TNI,” ungkap Haji Uma.
Haji uma juga menyampaikan terima kasih kepada keluarga Khaidar yang telah mengizinkan Khaidar hadir ke Jakarta untuk bersaksi terhadap kasus Imam Masykur.
Haji Uma menjelaskan, Khaidar merupakan korban yang selamat dan menyaksikan langsung saat pembunuhan Imam Masykur terjadi, khaidar satu mobil dengan Imam Masykur sebelum dibunuh oleh 3 oknum TNI, sehingga Khaidar kita sebut saksi mahkota.
Keberangkatan Khaidar ke Jakarta difasilitasi Haji Uma sedangkan 3 saksi lainnya dibantu oleh Mukhlis Takabeya, Abdullah Puteh dan Pj Bupati Bireuen.
Sementara perjalanan darat keempat saksi dari Lhokseumawe ke Kualanamu Sumatera Utara difasilitasi Haji Uma. (IA)