Satu Kasus Polio Ditemukan di Pidie, Pemkab Tetapkan KLB
Kemudian juga melakukan review cakupan imunisasi dan Penilaian Kondisi Sosial (social assessment), untuk mengetahui bagaimana penerimaan masyarakat di wilayah terdampak terhadap imunisasi. Selain itu koordinasi dan pengaktifan Tim Gerak Cepat (TGC) juga segera dilakukan.
“Perlu diketahui virus polio menular melalui air yang tercemar tinja yang mengandung virus polio. Jika virus ini masuk ke dalam tubuh anak yang belum mendapatkan imunisasi polio secara lengkap, maka virus akan berkembang biak di saluran pencernaan dan menyerang sistem saraf anak sehingga dapat menyebabkan kelumpuhan,” katanya.
“Ini dapat terjadi jika cakupan imunisasi rendah dalam jangka waktu yang cukup lama ditambah dengan kondisi sanitasi lingkungan yang tidak baik, seperti perilaku Buang Air Besar Sembarangan (BABS),” lanjutnya.
Lebih lanjut Arika menuturkan, untuk penanganan pasien saat ini sudah dilakukan kunjungan ulang oleh dokter spesialis anak dan dianjurkan untuk dilakukan rehabilitasi medik.
Dinas Kesehatan melalui Puskesmas Mane memfasilitasi rujukan ke RSUD T Chik Ditiro.
Untuk segera menanggulangi KLB maka sesuai dengan petunjuk dari Tim Komite Ahli maka akan dilakukan respons imunisasi sub-PIN, dengan memberikan imunisasi tetes polio untuk semua anak usia 0 – 13 tahun agar terbentuk kekebalan terhadap polio.
“Serta penguatan sistem surveilans untuk mendeteksi cepat adanya kasus lumpuh layuh mendadak di masyarakat. Target imunisasi adalah 95% dan merata di semua wilayah, agar kekebalan komunitas dapat tercapai,” jelasnya.
Pemerintah Kabupaten Pidie, kata Arika, juga segera meningkatkan edukasi masyarakat tentang pentingnya imunisasi rutin dan perilaku hidup bersih sehat, terutama perilaku BAB di jamban.
Kepala Biro Komunikasi Kemenkes RI dr Siti Nadia Tarmizi menyebut status polio sebelumnya memang sudah eradikasi. Namun, tidak menutup kemungkinan untuk kembali ditetapkan KLB jika ditemukan kembali satu kasus terinfeksi polio.
“Memang sudah eradikasi tapi kalau satu kasus jadinya disebut KLB,” tegas dr Nadia saat dihubungi detikcom Jumat (18/11).