Abu Adnan Bakongan, Ulama Kharismatik Penerus Abuya Muda Waly

Sabtu, 4 Juli 2020 (1 bulan lalu)
IMG-20200704-WA0003

Beliau dilahirkan di Manggeng, Aceh Selatan pada tahun 1905, dan berkiprah secara luas di Bakongan, sehingga masyarakat akrab menyebut beliau dengan sebutan Abu Bakongan atau Nek Abu Bakongan.

Kehadiran Abu Bakongan dalam perjalanan keilmuan di Aceh memiliki arti yang signifikan, mengingat rentang waktu yang lama, dan interaksi beliau dengan banyak ulama yang hidup sezaman dengannya.

Bahkan beliau berguru ke para ulama senior Aceh seperti Abu Kruengkalee, Abu Lampisang, Abuya Syekh Muda Waly, dan Abu Aidarus Sabang Lamno.

Mengawali pendidikannya Abu Bakongan belajar langsung kepada ayahnya Teungku Mahmud yang merupakan keturunan perantau dari Reubee Pidie. Setelah mempelajari dasar-dasar keilmuan dari ayahnya, beliau disebutkan pula pernah belajar kepada Teungku Abdullah seorang teungku di kampungnya. Kemudian mulailah Abu Bakongan merantau untuk menuntut ilmu di berbagai dayah kepada sejumlah ulama kharismatik.

Tempat pertama yang beliau tuju adalah Jam’iyatu Khairiyah, sebuah lembaga pendidikan yang dibangun oleh Abu Muhammad Ali Lampisang yang berasal dari Siem Kruengkalee dan lulusan dari Lampisang Aceh Besar dan Yan Keudah Malaysia, adik sepupu dari Abu Hasan Kruengkalee.

Selain Abu Bakongan, di dayah ini juga belajar ulama lainnya termasuk yang paling masyhur Abuya Syekh Muda Waly dan Abuya Teungku Haji Bilal Yatim Suak.

Setelah beberapa tahun di dayah Abu Lampisang, Abu Bakongan kemudian melanjutkan pengajiannya di Dayah Bustanul Huda Blangpidie kepada ulama Abu Syech Mud Blangpidie, bersama beberapa orang teman seangkatannya antara lain Abuya Muda Waly, Teungku Bilal Yatim Suak, Teungku Salim Samadua.

Karena satu dan berbagai hal, maka berpisahlah keempat orang ini dalam belajar setelah dari Abu Syech Mud Blangpidie. Abuya Muda Waly kemudian menuju ke Aceh Besar belajar di Dayah Hasbiyah Abu Indrapuri kemudian ke Padang.

Abu Bilal Yatim Suak menuju ke Samakurok dan belajar disana sampai tahun 1942 kemudian pulang ke Blangpidie, sedangkan Teungku Salim Samadua disebutkan menuju ke Aceh Besar untuk belajar di dayah yang ada di sana, namun tidak lama beliau pun pulang kampung dan mulai menjadi teungku di Samadua dan meninggal dalam usia muda.

Adapun Abu Adnan Mahmud Bakongan bertekad melanjutkan menuntut ilmu di Padang, mengingat banyak ulama lulusan Mekkah yang berasal dari Padang, bahkan Abu Peulumat yang juga guru Abu Bakongan berasal dari Padang.

Adapun Abu Adnan Mahmud Bakongan bertekad melanjutkan menuntut ilmu di Padang, mengingat banyak ulama lulusan Mekkah yang berasal dari Padang, bahkan Abu Peulumat yang juga guru Abu Bakongan berasal dari Padang.

Beliau berangkat ke Padang melalui rute Bakongan. Sesampai beliau di Bakongan beliau diperiksa, karena keadaan Aceh ketika itu belum kondusif yang memeriksanya adalah anak buah Teuku Nyak Raja yang merupakan Ulee Balang Bakongan.

Ketika diperiksa, ditemukan kitab dalam baju Teungku Adnan Mahmud, sehingga sejak hari itu beliau didaulat sebagai guru agama bagi masyarakat Bakongan. Sebab tidak ada seorangpun yang diizinkan melewati rute tersebut karena kondisi keamanan yang tidak memungkinkan sama sekali.

Maka mulailah Abu Bakongan sejak diminta oleh Teuku Nyak Raja Bakongan untuk mengabdi di Bakongan dan terhentilah keinginan Abu Bakongan menuju Padang. Beliau mulai berdakwah di Bakongan dan pada tahun 1937 membangun sebuah dayah yang bernama Ashabul Yamin dengan fasilitas seadanya dari bantuan wakaf tanah masyarakat setempat.

Setelah berlalu tiga tahun, pada tahun 1940, pulanglah ke Darussalam Labuhan Haji sahabatnya Syekh Muda Waly yang kemudian menjadi guru bagi Abu Bakongan. Abuya Muda Waly pulang ke Darussalam melalui rute Bakongan, bermalamlah Abuya di rumah Abu Bakongan.

Pada pagi harinya, Abuya Muda Waly kemudian mengijazahkan Hizib Hizbul Bahr kepada Abu Bakongan. Abuya pulang dari Padang ditemani oleh Ummi Padang Hj Rasimah dan Abu Muhibbudin Waly yang waktu itu masih kecil. Abuya dan Abu Bakongan pada awalnya merupakan murid dari Abu Muhammad Ali Lampisang dan Abu Syech Mud Blangpidie.

Karena dulunya mereka sama-sama belajar kepada Abu Lampisang di Labuhan Haji dan kemudian kepada Abu Syech Mud di Blangpidie. Setelah sekian tahun terpisah bertemu kembali kedua sahabat yang telah lama terpisah.

Saat itu Abuya Muda Waly sudah menjadi alim besar, walaupun usia beliau masih sangat muda dan lebih muda dari Abu Bakongan sahabatnya itu. Makanya tidak berlebihan bila di Padang beliau disebut dengan Angku Mudo Aceh artinya ulama muda yang berasal dari Aceh dan seorang yang dianggap mendalam ilmunya meskipun usianya masih sangat belia.

Merasa kagum dengan keilmuan dan keshalihan Abuya Muda Waly, maka para ulama Padang terutama ulama Kaum Tua seperti Syekh Khatib Ali, Syekh Muhammad Jamil Jaho, keduanya murid Syekh Ahmad Khatib Minangkabau mengambil Syekh Muda Waly sebagai menantu, dengan harapan bisa tersambung dengan nasab ulama Aceh melalui Abuya Muda Waly.

Setelah pertemuan di rumah Abu Bakongan, sejak hari itu mulailah Abu Adnan Bakongan kembali belajar kepada Abuya Muda Waly al-Khalidy. Abu Adnan Bakongan termasuk ulama yang langsung menjadi mursyid tanpa perlu tauliyah setelah wafatnya Syekh Muda Waly.

Hanya Abu Bakongan dan Abu Jailani Kota Fajar yang mendapatkan posisi yang demikian. Abu Adnan dan Abu Jailani Kota Fajar juga merupakan guru dari Abon Kota Fajar Teungku Hasbi Nyak Diwa, yang lama mendampingi kedua ulama tersebut. Sehingga Abu Bakongan dan Abuya Jailani Kota Fajar dianggap sebagai murid senior Abuya Syekh Muda Waly.

Selain sebagai ulama, kiprah Abu Adnan Bakongan terhadap masyarakat tentu tidak diragukan lagi, selain mendidik masyarakat, beliau juga memiliki anak-anak yang hampir seluruhnya ulama. Sebut saja diantara anak-anaknya adalah Waled Marhaban Bakongan dan Abati Baidhawi serta anak beliau lainnya.

Adapun Abati Baidhawi pelanjut kepemimpinan Ashabul Yamin adalah lulusan Padang dari Madrasah Tarbiyah Islamnya Syekh Zakaria Labai Sati Malalo Padang.

Setelah pengabdian yang panjang untuk masyarakat Bakongan dan Aceh secara umum, maka wafatlah Abu Bakongan dalam usia diperkirakan 106 tahun. Rahimahullah Rahmatan Wasi’atan.

Ditulis Oleh:
Dr. Nurkhalis Mukhtar El-Sakandary, Lc (Ketua STAI Al Washliyah Banda Aceh; Pengampu Pengajian Rutin TAFITAS Aceh; dan Penulis Buku Membumikan Fatwa Ulama)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Enable Notifications.    Ok No thanks