Aceh Harus Lakukan Tes PCR Massal Covid-19

Jumat, 29 Mei 2020 (2 bulan lalu)
Rektor Universitas Syiah Kuala Banda Aceh.

Oleh: Prof Dr Ir Samsul Rizal, M.Eng

HAMPIR 5 bulan sudah dunia dilanda Coronavirus Disease 2019 (Covid-19), belum ada tanda pandemik ini akan berakhir. Meski beberapa negara melaporkan penurunan kasus, namun tidak ada yang berani melakukan hidup normal, seperti kondisi 6 bulan yang lalu.

Berada dalam kondisi lockdown atau pembatasan sosial bersekala besar apapun istilahnya dalam waktu lebih dari 3 bulan bukanlah mudah untuk semua negara. Bahkan negara sekelas Amerika sendiri tidak kuat, ketika banyak desakan dari masyarakat yang kehilangan pendapatan, pekerjaan dan penghidupannya, maka dunia mulai harus memilih antara sektor ekonomi dan dampak sosialnya atau sektor kesehatan dan praktisi di dalamnya. Bila kita membandingan ratio tenaga medis dan masyarakat di negara maju adalah 1:1000 atau 0,01 persen, sementara Indonesia 1: 4000 atau 0,025 persen.

Semua pemimpin pasti cemas akan dampak kesehatan akibat Covid, namun lebih cemas pada dampak sosial ekonomi yang terjadi. Sangat wajar pada akhirnya dunia mulai berpikir untuk kembali melakukan aktivitas dan menggerakan kembali roda ekonomi yang sempat terhenti. New normal menjadi istilah popular baru. Dunia harus adaptif dengan kondisi covid, kehidupan dengan masker, social dan physical distancing, personal hygine dengan cuci tangan akan menjadi keseharian manusia kedepannya.

WHO membuat beberapa syarat untuk suatu negara masuk ke masa new normal diantaranya telah mampu mengendalikan transmisi Covid-19. Kapasitas sistem kesehatan yang mampu untuk mengidentifikasi, isolasi, menguji, melacak kontak dan mengkarantina, Melakukan pengaturan ketat terhadap kemungkinan kasus impor, pengawasan tempat dengan kerentanan tinggi, terutama rumah orang lanjut usia, fasilitas kesehatan mental dan pemukiman padat, penerapan pencegahan ditempat kerja seperti jaga jarak fisik, fasilitas dan membiasakan cuci tangan.

Taiwan adalah salah satu negara yang sukses melawan Covid -19, mereka sudah awal melakukan new normal, semua aktifitas hampir berjalan normal, hanya perbedaan pada sosial distancing, masker dan cuci tangan. Tentu saja ini tidak didapat dengan mudah, mereka aktif melakukan pemeriksaan case tracking dan case finding. Kapasitas mereka tingkatkan dan kerentanan mampu di turunkan sehingga resiko jauh berkurang.

Indonesia sendiri saat ini berada dalam kondisi tidak stabil, kasus baru masih berkisar diatas 500 perhari, padahal kamampuan deteksi atau pemeriksaan kita masih sangat kecil, bahkan belum mencapai target 10.000 pemeriksaan perhari, dalam rasio Indonesia baru mampu melakukan 600 pemeriksaan dalam 1 juta penduduk bila dibandingkan dengan singapura 20.000 per 1 juta penduduk, amerika 12.000 pemeriksaan per 1 juta penduduk dan korea selatan 17.000 per 1 juta penduduk. Vietnam melakukan 2.600 pemeriksaan per 1 juta jiwa, Brunai Darussalam bahkan memeriksa 33.500 sampel dari 1 juta penduduknya.

Rasio tes RT- PCR (Real Time Polymerase Chain Reaction) di Indonesia sendiri di Asia tenggara menempati urutan ketiga dari bawah. Menariknya, dengan rasio yang sedikit itu, jumlah kasus positif corona di Indonesia terbilang banyak jika dibandingkan negara Asia Tenggara lain. Artinya, jika rasio tes PCR di Indonesia ditingkatkan, bukan tidak mungkin jumlah kasus positif meningkat berkali-kali lipat.

Menyadari pentingnya pemeriksaan massal yang lebih akurat, beberapa pimpinan daerah mulai memanfaatkan fasilitas realtime PCR di daerahnya untuk mendapatkan gambaran pasti perkembangan Covid, Kalimantan timur mendapatkan banyak tambahan kasus baru setelah mengaktifkan test massal swab RT-PCR.

Kepentingan mengetahui kondisi real kasus di lapangan saat ini dikaitkan dengan kemungkinan melakukan new normal dan mencegah gelombang baru covid-19. Para ahli epidemiologi kesehatan memberikan angka ideal pemeriksaan adalah 0.5-1 persen penduduk.

Provinsi Aceh merupakan salah satu daerah di Indonesia yang memiliki kasus Covid-19 rendah hanya 19 kasus positif yang merupakan kasus impor bahkan beberapa waktu sempat kosong. Kondisi masyarakat aceh nyaris normal, segala aktivitas tetap berlangsung seperti biasa, termasuk aktivitas ibadah di mesjid yang di berbagai daerah lain terpaksa ditiadakan. Banyak pujian terhadap hal ini, meskipun kita tidak boleh lengah akan kondisi Aceh yang secara geografis umumnya bersatu dengan wilayah lain Indonesia yaitu Sumatera Utara.

Ada berbagai analisa mengenai kurangnya angka Covid-19 di Aceh diantaranya, adalah tingkat berserah diri yang tinggi dari masyarakat Aceh yang agamis kepada Allah menyebabkan perasaan tenang dan meningkatan imunitas tubuh melawan Corona virus.

Di Aceh tidak terlalu banyak tranportasi umum khususnya dalam kota, seperti bus kota, Aceh tidak punya moda transportasi massal seperti kereta api yang menyebabkan orang berjejal. Selanjutnya adalah pemeriksaan massal belum dilakukan dengan jumlah yang cukup di Aceh.

Memiliki 2 laboratorium pemeriksaan yaitu Balitbangkes dan laboratorium penyakit infeksi Unsyiah, Aceh mampu melakukan pemeriksaan regular 300 sampel perhari, bahkan dalam kondisi terpaksa bisa ditingkatkan 2 kali lipatnya, namun sampai saat ini kemampuan tersebut belum termanfaatkan.

Rasanya terhadap banyak pujian dan sanjungan ke Aceh terkait kondisi Covid-19 sikap terbaik adalah tetap waspada, tetap mensosialisasikan social distancing, pakai masker, cuci tangan dan melakukan pemeriksaan masal covid-19 hingga kita sangat yakin bahwa jumlah real tergambar.

Covid-19 masih jauh dari selesai, new normal segera dijalankan, tapi melindungi manusia adalah upaya yang tidak bisa dilupakan hanya karena sosial ekonomi, kalau harus memilih maka pilihlah keduanya, kita lakukan new normal, kita kendalikan covid-19. Kemampuan Aceh memungkinkan untuk itu.**

* Penulis adalah Rektor Universitas Syiah Kuala Banda Aceh.

Enable Notifications.    Ok No thanks