Abu Ghafar Lhoknga, Ulama Kharismatik Aceh Besar Yang Zuhud

Jumat, 3 Juli 2020 (1 bulan lalu)
IMG-20200703-WA0000

Beliau merupakan generasi terakhir dari murid Abu Syech Mud Blangpidie. Beliau belajar dalam rentang waktu 1959 – 1964, pada tahun 1966 Abuya Syekh Mahmud wafat.

Abu Syech Mud adalah ulama besar Aceh yang berasal dari Lhoknga, menuntut ilmu pada awalnya pada Teungku Syekh Haji Muhammad Hasan Kruengkalee di Dayah Kruengkalee dan mematangkan keilmuannya di Madrasah Irsyadiah Yan Kedah Malaysia, kepada ulama besar Aceh yang juga guru Abu Kruengkalee yaitu Teungku Chik Muhammad Arsyad Diyan.

Dalam rentang waktu 1920-1926 telah mengantarkan Abu Syech Mud muda menjadi ulama yang rasikh ilmunya. Pada tahun 1927 Abu Syech Mud diminta oleh Uleebalang Kutabatee Blangpidie Teuku Sabi untuk menjadi ulama dan pengayom agama masyarakat Blangpidie dan sekitarnya.

Pada tahun 1928, mulailah Abu Syech Mud membangun sebuah lembaga pendidikan yang dikenal dengan Dayah Bustanul Huda Blangpidie yang dahulunya berada seputaran Mesjid Jamik Baitul ‘Adhim Blangpidie.

Kehadiran Abu Syech Mud memiliki arti yang signifikan dalam jaringan ulama Aceh kontemporer, mengingat para ulama Aceh generasi sesudahnya kebanyakan adalah murid dari Abu Syech Mud termasuk Abu Abdul Ghaffar Lhoknga yang dikenal dengan Abu Ghafar Lhoknga.

Di antara para ulama dan lulusan Dayah Bustanul Huda periode awal adalah Abuya Syekh Muda Waly, Abu Calang Teungku Muhammad Arsyad, Abu Haji Adnan Mahmud Bakongan, Abuya Jailani Kota Fajar, Abu Ibrahim Woyla, Abuya Abdul Hamid Kamal, Abuya Haji Bilal Yatim, Abu Imam Syamsuddin Sangkalan, Abu Haji Abdul Ghafar Lhoknga, dan para ulama lainnya.

Dapat disimpulkan, selain Abu Kruengkalee dan Abuya Muda Waly, maka Abu Syech Mud adalah salah satu Syeikhul Masyaikh ulama Aceh Kontemporer.

Kedatangan Abu Ghafar Lhoknga untuk memperdalam Ilmunya kepada Abu Syech Mud sangat beralasan, mengingat beliau sebelumnya telah belajar di Banda Aceh tepatnya Ulee Lheue selama delapan tahun kepada ulama yang bernama Teungku Haji Makam rentang waktu 1951 – 1958. Karena di tahun 1959 beliau merantau ke kabupaten lainnya Blangpidie belajar kepada Abu Syech Mud yang juga aslinya berasal dari Lhoknga.

Selain kepada Abu Syech Mud, Abu Ghafar Lhoknga disebutkan dalam nazam yang disusun oleh Abuya Jamaluddin Waly, juga termasuk salah satu ulama yang pernah menimba ilmu di Dayah Darussalam Labuhan Haji.

Karena diantara figur kharismatik ulama dari Lhoknga selain Abu Ghafar adalah Abu Gurah yang berasal dari Peukan Bada dan keduanya adalah murid dari Abuya Syekh Muda Waly al-Khalidy.

Setelah menimba ilmu di berbagai tempat, Abu Ghafar Lhoknga dalam usianya 31 tahun mulai berkiprah secara luas di kampung halamannya Lhokruet Lhoknga Aceh Besar. Beliau sebagai ulama, Imam Chik dan pemimpin dayah.

Sejak tiba di desanya, beliau secara tulus dan sungguh-sungguh mengabdi kepada masyarakatnya. Tidak terhitung banyaknya masyarakat didikan l beliau di berbagai majelis taklim yang berpusat di Banda Aceh dan Aceh Besar.

Menurut salah satu muridnya Teungku Abdul Wahid, bahwa dalam berbagai pengajian, Abu Ghafar mengajarkan kitab-kitab melayu jawo kepada murid-muridnya. Diantara kitab-kitab jawo yang sering digunakan sebagai rujukan dalam pengajian Abu Ghafar adalah Kitab Tafsir, Kitab Tasawuf dan Kitab Tauhid. Untuk kitab tafsir biasanya beliau memakai kitab Tafsir Turjuman al Mustafid yang ditulis oleh Syekh Abdurrauf al-Singkili atau Teungku Syiahkuala.

Kitab Turjuman al Mustafid sendiri dibagian-bagian tertentu memiliki titik kerumitan, apalagi bila menyangkut pembahasan Qira’at yang terdapat di dalamnya. Demikian pula kitab tasawuf Sirussalikin, walaupun jawo tetapi dibanyak tempat riwayat-riwayat hadits-nya tidak berbaris dan terkadang butuh pemahaman mendalam.

Namun Abu Ghafar Lhoknga sebagai ulama yang alim jawo, sangat lihai dalam memaknai dan menjelaskan maksud dari pengarang kitab-kitab tersebut.

Penulis melihat murid-murid para ulama tempo dulu seperti Abu Ghafar Lhoknga atau Teungku Sulaiman Nur Abdya yang juga lulusan Dayah Darussalam Labuhan Haji kelahiran awal tahun tiga puluhan, walaupun mereka para ulama tersebut terkadang tidak terlalu lihai dalam kitab-kitab Arab, namun mereka memiliki keputusan hukum yang mantap dan pasti yang diterima dari para guru mereka secara bersanad.

Sehingga sampai kapanpun, dari segi orisinilitas dan keaslian ilmu mereka lebih terjaga. Penulis sendiri pernah bertanya beberapa pertanyaan secara berkala dari Almarhum Teungku Sulaiman Nur secara bertahun-tahun, dan jawaban beliau adalah apa yang beliau dengarkan dari gurunya, tidak berubah walaupun satu baris. Artinya melekat ilmu yang dimiliki para ulama tersebut lebih lama.

Semasa hidupnya, Abu Ghafar juga seorang guru Tarekat Haddadiyah dan yang diijazahkan oleh gurunya Abu Syech Mud dari jalur Abu Haji Hasan Kruengkalee. Sehingga di berbagai pengajiannya, beliau mengajarkan bacaan surat Yasin secara bersanad, doa-doa dan berbagai hizib yang pernah beliau perolehan dari para gurunya itu.

Abu Ghafar juga seorang ulama yang zuhud dan qana’ah dalam hidupnya. Banyak pelajaran berharga yang dipetik dari kehidupan ulama kharismatik itu. Dan salah satu bentuk kecintaannya kepada Rasulullah SAW, diantara banyak hal lainnya adalah beliau selalu memakai serban.

Bahkan ada keharuan yang beliau rasakan ketika Maulana Habib Umar mengecup keningnya pada sebuah pertemuan ulama. Setelah berbagai kontribusi untuk masyarakatnya, dalam usia 81 tahun wafatlah ulama yang bertuah tersebut. Rahimahullah Rahmatan Wasi’atan. Alfaatihah.

Ditulis Oleh:
Dr. Nurkhalis Mukhtar El-Sakandary, Lc (Ketua STAI Al Washliyah Banda Aceh; Pengampu Pengajian Rutin TAFITAS Aceh; dan Penulis Buku Membumikan Fatwa Ulama)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Enable Notifications.    Ok No thanks